Masa-masa sulit. Pernahkah kau merasakaannaya. Tunggu dulu. Aku tak sedang ingin membicarakan masa-masa sulit tentang keuangan akhir-akhir ini, ataupun masa-masa sulit ketika harus dihadapkan pada perpisahan sebuah hubungan. Aku sedang membicarakan tentang masa-masa sulit, di awal ketika harus berhadapan dengan hal yang dikatakan Dewasa. Inilah yang kurasakan sekarang. Membuatku gundah gulana dan tak tahu kan berujung dimana perasaan ini.
Dulu aku begitu bangga memperlihatkan kenakalanku, namun kini aku telah malu. Dulu semua hal begitu gemilang, penuh tawa, canda-ria, bersama kawan-kawan tanpa memperdulikan orang lain dan apa yang harus kulakukan setelahnya. Kini bagiku sudah hambar. Aku tak lagi menyukai hal-hal itu. Terlebih tuntutan akan diriku yang harus dihadapkan pada penyesuaian diri pada masyarkat, yang kini semakin medesakku untuk meninggalkan itu semua.
Masih tertanam dengan jelas masa-masa itu. Tentu, karena itu semua baru berlangsung seperti matahari terbenam tadi sore bagiku. Bahkan dengan umurku yang sekarang pun, aku merasa masih layak mengikutinya. “Mumpung masih muda, bersenanng-senang dulu. Setelah dewasa, barulah memikirkan keluarga, dan pekerjaan”. Ya, itulah yang sering dikatakan teman-teman. Benakah seharusnya demikian. Entahlah.
Kini inilah hidupku. Dan aku menjalaninya dengan setapak-demi setapak, melangkah dengan berat. Suatu kewajiban baru yang tak lain adalah melihat dan menjejaki kehidupan dengan pendangan yang lebih nyata, bertanggung jawab, dan tidak kekanak-kanakan, harus mejadi kebiasaan yang kan kujadikan bagian hidupku kini. Terpaksa. Ya, terkadang aku memang merasa terpaksa. Namun, memang selayaknya kulakukan semua ini. Aku harus menjalaninya. Dan harus memikirkan serta masa depan dan pendidikanku.
Semua itu sudah cukup berat kurasakan. Ditambah kebingunganku dan sikap yang masih ragu-ragu dalam mengambil langkahlah yang kini menjadi masalah besar. Dengan tak adanya profil yang kuanggap begitu sesuai untuk kehidupanku kedepannya. Aku serasa di ujung tanduk. Orang tua. Ah. Tlah ku urungkan niatku tuk menjejaki langkah mereka. Entah apakah ini baik ataukah salah satu kebodohanku. Aku tak tahu. Yang ku ingat tentang mereka hanyalah hubunganku dengan mereka sudah tak seperti dulu. Dulu kusyukuri hubunganku dengan mereka bagaikan mencecap garam. Sangat asin, sedikit pahit dan tidak enak. Kini hubunganku bagaikan mencecap pare. Sangat pahit. Dan aku berharap semoga tak kan jadi lebih pahit lagi.
Semua itu yang tersulit. Ah, bukan juga. Yang tersulit bagiku adalah keharusanku menyesuaikan diriku. Yang marjinal ini. Dengan tanpa panutan, dan contoh yang cukup dekat. Aku ragu melangkah. Ya, kurasakan dengan jelas, aku ragu dan berat tuk melangkah.
Kemanakah harus kucari rindu?
9 tahun yang lalu




